DUKA DI LANGIT SENJA.
Terkadang ...
Keinginan tak selaras dengan kenyata'an.
Kemarin ku masih bermain dengan bayang wajahmu.
Ku masih berharap menyentuh nyata tubuhmu.
Merasakan hembus desah napasmu.
Merebahkan dan menyandarkan resahmu ke bidang dadaku.
Ku impikan.
Kita menyatu dalam satu tarikan napas.
Bagai sepasang merpati,
Berkepak di cakrawala jingga.
Memetik purnama.
Namun Dia.
Sang pemilik jiwamu.
Lebih dulu memetik lembaran waktumu.
Bagai daun yang luruh.
Kutatap kini ragamu terbujur kaku.
Awan hitam menyelimuti langit senjaku.
Deras hujan,sederas jatuhnya airmataku.
Yang mengiringi kepergianmu.
Dan dengan do'a.
Ku ukir cintaku.
Di atas gigil batu nisanmu.
Keinginan tak selaras dengan kenyata'an.
Kemarin ku masih bermain dengan bayang wajahmu.
Ku masih berharap menyentuh nyata tubuhmu.
Merasakan hembus desah napasmu.
Merebahkan dan menyandarkan resahmu ke bidang dadaku.
Ku impikan.
Kita menyatu dalam satu tarikan napas.
Bagai sepasang merpati,
Berkepak di cakrawala jingga.
Memetik purnama.
Namun Dia.
Sang pemilik jiwamu.
Lebih dulu memetik lembaran waktumu.
Bagai daun yang luruh.
Kutatap kini ragamu terbujur kaku.
Awan hitam menyelimuti langit senjaku.
Deras hujan,sederas jatuhnya airmataku.
Yang mengiringi kepergianmu.
Dan dengan do'a.
Ku ukir cintaku.
Di atas gigil batu nisanmu.

No comments:
Post a Comment
Komentar Di Sini